RSS

Bayangan Hitam

13 Sep

“Oii.. Bro! Mau ke mana?” teriakku bertanya melihat Eko yang lewat depan rumahku.

“Oh… Kamu di rumah? Ayo ikut.Anak-anak sudah nungguin!”. Dia berhenti tepat di depan rumahku. Aku yang kuliah di kota memang jarang berada di rumah. Biasanya hanya hari Sabtu dan Minggu saja bisa pulang. Tidak heran jika hari ini pun tetanggaku Eko yang bertubuh kurus ini tidak mengajakku sejak awal.

“Ke mana?” tanyaku.

“Biasalah, ngopi ke warung mbok Darmi…” jawabnya. Kebiasaan warga desaku. Menghabiskan malam dengan berkumpul di warung kopi. Mungkin juga kebiasaan sebagian masyarakat Jawa pada umumnya.

“Tadi abis isya’ ke mana kok nggak ikut acara kirim doa seminggu meninggalnya pak Sutris?” Lanjut Eko setelah aku menghampirinya.

“Oh… tadi ada urusan di rumah. Lagian ada bapakku yang hadir, kan?”

“Iya sih, tapi tetap ajakan pemudanya kurang”

Kami pun berangkat ke warung mbok Darmi yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

“Oh, kamu sudah pulang? Lama nggak keliatan” tanya Andri sesampainya aku di warung mbok Darmi. “Ah iya, siang tadi baru pulang”. Aku dan Eko menyapa dan menjabat tangan mereka satu persatu yang duduk lesehan melingkari kopi dan gorengan. Total malam ini ada enam orang, termasuk aku. Yaitu, Eko, Andri, Rudi, Taufik dan Yoga. Biasanya ada tujuh orang.

“Eh, malam sebelum kecelakaannya Roni kemarin aku seperti melihat ‘ndaru’(istilah Jawa yang berarti cahaya)…”cerita Andri. “…berputar di langit terus menghilang di balik atap rumah Roni.”

“Oh, yang kemarin?” tanya Eko sekilas pada Andri sambil menyesap kopinya yang masih panas.

“Nih Eko saksinya!…” tegas Andri sambil menepuk pundak Eko yang duduk di sampingnya sampai tersedak kepanasan. “…kemarin waktu aku lihat bintang itu kebetulan Eko lewat jadi aku panggil dia”. Melihat keseriusannya tak satu pun dari kami yang menganggapnya sedang bercanda.

Mendengar kata ‘ndaru’ aku sendiri langsung teringat dengan cerita orang tuaku bahwa dulu aku pernah kejatuhan bintang biru tepat di dadaku saat aku masih bayi. Saat itu kami sekeluarga sedang dalam perjalanan berangkat dari Madiun ke Riau kemudian saat melewati hutan Alas Roban yang terkenal angker benda itu jatuh tepat di dadaku. Kata bapak yang menggendongku, “Api birunya seperti bara rokok tapi tidak panas saat aku bersihkan dari dada anakku. Dan hilang begitu saja.”

‘Ndaru’ yang aku tahu adalah seperti bintang berjalan di malam hari. Memiliki banyak warna. Umumnya yang warga kami percayai adalah jika benda itu berwarna merah berarti jin jahat, jika berwarna hijau atau biru maka juga cukup jahat dan jika berwarna putih maka itu jin baik. Dan jika bintang itu terlihat jatuh di rumah seseorang maka di percaya akan ada musibah yang akan menimpa salah satu penghuni rumah tersebut. Tetapi di daerah lain ada juga yang mempercayai sebaliknya. Jika benda itu jatuh di rumah seseorang maka orang tersebut justru akan mendapat kabar baik.

Aku mengetahui ini semua saat di ajak orang tuaku ke rumah seorang Kiai ketika masih SMP. Kiai itu bilang jika aku tidak mendapat ini maka aku akan memiliki kekurangan. Entah itu cacat atau apa. Kemudian Kiai itu memberikan analogi “salah siapa jika ada lubang di tanah kemudian ketika hujan datang air akan menggenang dan mengisi penuh lubang itu?”. Kami tidak bisa menjawab.

“Tidak ada yang salah…” kata Kiai itu. “karena memang seharusnya begitu. Tapi kalau aku di beri, maka aku tidak akan menerimanya. Benda itu pada dasarnya berbentuk laki-laki tinggi besar penuh bulu berkulit hitam seperti gelap malam dengan rambut panjang sampai tanah dan hanya mengenakan celana pendek.”

“Serius ndri?…” tanya Rudi tiba-tiba menyadarkan lamunanku. “kemarin aku memang lihat tapi nggak berpikiran sampai ke situ…”

Kini pandangan kami semua langsung tertuju ke arah Rudi. Rumah Rudi tepat di belakang rumah Roni dan dia bercerita kalau saat itu dia sedang berada di depan rumah dan di atas rumah Roni dia melihat seperti ada bintang berwarna merah yang jatuh tepat di atas rumah Roni.

“Tapi itu jam berapa ya?…” tanya Taufik tiba-tiba. “…kalau kejadiannya sekitar jam 21.30 setelah pulang dari undangan di rumah pak Yanto sepertinya aku juga lihat…” Pandangan kami semua langsung beralih ke arah taufik.

“…waktu itu nggak lama setelah pulang dari rumah pak Yanto aku mau pergi ke luar dan baru keluar rumah aku lihat bintang merah berjalan menuju barat. Nggak terlalu tinggi jadi aku pikir itu aneh.” Jelas taufik. Tidak heran, pikir kami semua. Karena rumah taufik berada di sebelah timur rumah Roni dan hanya berjarak empat rumah.

“Ah, cocok! Memang sekitar jam 21.30 setelah pulang dari undangan.” Sahut Andri.

“Tepat!” teriak Rudi mengiakan. “Setelah pulang dariundangan itu kemarin aku memang duduk di luar rumah karena kegerahan lalu nggak lama aku lihat bintang itu.”

“Berarti kita kemarin memang nggak salah lihat.” tegas Andri lagi yang merasa puas.

“Terus sekarang keadaan Roni gimana?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan. Jujur saja aku memang tidak terlalu menyukai topik pembicaraan seperti ini. Mungkin juga karena hampir setiap hari aku berurusan dengan kata ilmiah di kampus sehingga aku sedikit menyangsikan hal semacam ini.

Sepulang dari kos tadi siang aku memang mendengar peristiwa kecelakaan tetanggaku Roni di pagi harinya. Sejauh yang aku dengar, dia di tabrak oleh seorang polisi dari arah depan karena terpeleset di jalan yang licin setelah hujan. Bagian kepala mobil pick-upbutut milik Roni ringsek parah tak berbentuk lagi. Bahkan semua orang bertanya heran bagaimana mungkin pengemudinya bisa selamat hampir tanpa cedera. Sedangkan polisi dengan roda dua yang menabrak dari arah depan itu terluka parah sampai patah tulang kaki.

“Oh… Roni sehat. Tapi tumben dia nggak ikut ngumpul.” jawab Andri.

“Siapa juga yang mau keluyuran setelah kejadian seperti itu? Siapa tahu juga dia masih berurusan dengan polisi. Eh, tapi kasihan juga ya polisinya?” sahut Yoga mencoba ikut menanggapi.

“Alah buat apa kasihan pada polisi?” ketus Eko. Seketika itu kami semua langsung tertawa terbahak-bahak. Karena memang seminggu lalu Eko baru saja di tilang polisi karena tidak membawa SIM. Juga karena reputasi polisi sekarang yang terkenal korup.

Kejadian itu tepat setelah kematian tetangga kami pak Sutris. Karena keluarga pak Sutris yang ada di kota mengganti nomor handphone-nya tanpa memberi kabar, keluarga pak Sutris yang ada di sini tidak bisa menghubungi mereka. Eko yang merupakan tetangga terdekat di utus untuk mengabarkan berita duka. Hanya bermodal alamat dan motor pinjaman dari keluarga pak Sutris lengkap dengan helm Eko pun langsung berangkat tanpa pulang dulu untuk mengambil SIM.

Mujurlah dia, di tengah perjalanan ada razia SIM. Polisi itu juga tidak menerima setiap alasan dan akhirnya Eko pun di tilang. Dan baru tadi pagi dia pergi ke pengadilan untuk menebus STNK yang di sita polisi Minggu lalu dengan uang 50 ribu hasil kerjanya. Bagi kami uang sejumlah itu cukup berharga apa lagi jika hanya berakhir di kantong polisi korup. Bahkan berakhir di pengadilan pun juga tidak jauh berbeda. Dia merasa tidak enak hati jika mengabarkan berita seperti ini saat keluarga pak Sutrissedang berduka, apalagi sampai meminta ganti rugi uang tebusan tersebut. Dan sepertinya hal itu membuat Eko memiliki dendam pribadi pada para polisi.

“Tapi ada yang tahu nggak. Seminggu ini setelah meninggalnya  pak Sutris. Di belakang rumah ku setiap malam ada orang yang lewat. Pak Darto dan istrinya yang pertama kali lihat pada malam pertama meninggalnya pak Sutris…” Cerita Yoga tiba-tiba menghentikan tawa kami. Pak Darto yang merupakan adik pak Sutrissudah berusaha merahasiakan cerita itu. Tapi sepertinya tidak terlalu berhasil.

“Oh, yang katanya tinggi besar hitam itu ya?” kata Eko. Kami semua hanya diam dan mengangguk-angguk.

“Orang itu tidak terlihat jelas, hanya seperti bayangan hitam yang berjalan tanpa tujuan dan menghilang begitu saja dalam gelap malam.” lanjut Yoga.

“Aku sendiri pernah lihat sekali kemarin waktu ke belakang buang air kecil. Bahkan sejak seminggu lalu saja aku sudah sulit tidur, apalagi setelah malam ini. Hiii…” lanjut Yoga lagi dengan ekspresi menyeramkan.

Di lihat dari letak rumahnya. Rumah Yoga hanya berbatasan satu rumah dari rumahnya pak Sutris. Hanya di batasi rumah Eko yang terletak di tengah. Sementara di belakang rumah mereka adalah persawahan yang cukup luas. Sebelum persawahan, tepat di belakang pekarangan rumah mereka ada sungai kecil untuk pengairan sawah dan sepetak besar tempat penampungan air peninggalan Belanda untuk pengairan sawah ketika kemarau.

Dulu banyak cerita menyeramkan tentang sungai kecil itu. Waktu kami masih kecil, ada cerita tentang seorang anak perempuan yang tenggelam di sungai dangkal selebar dua meter setengah itu. Bahkan sampai berhari-hari mayatnya tidak di temukan. Juga ada rumor kalau mayatnya hanyut di bawa WeweGombel. Pada akhirnya mayat itu di temukan tepat di pertigaan cabang sungai menuju ke penampungan air. Tersangkut pada serabut pohon pisang yang sudah membusuk. Membuat mayat itu terlihat seperti tersangkut pada rambut putih panjang milik nenek-nenek di dalam air.

Tidak hanya itu, suatu malam salah satu temanku dari desa sebelah pernah pesta miras di tepian penampung air peninggalan Belanda itu. Saat itu dia dan teman-teman pestanya melihat seikat pocong sedang duduk di tepian sungai yang tidak jauh darinya dengan sangat mencolok. Pocong yang duduk membelakangi mereka itu mengeluarkan cahaya putih yang sangat terang. Cukup silau di tengah malam sehingga mereka semua melihat keberadaan pocong itu. Dan ketika mereka semua menoleh, pocong itu juga ikut menoleh ke arah mereka. Kepala pocong itu menoleh dengan leher yang sepertinya tanpa memiliki tulang. Berputar menyeramkan begitu saja dengan menampakkan wajah hitam hancur yang sangat menyeramkan.

Kami semua sempat meragukan cerita itu. Tapi temanku itu tetap ngotot kalau saat itu mereka baru memulai acara dan hanya menenggak segelas kecil minumannya. Jadi mereka belum cukup mabuk untuk merasa bahwa itu khayalan.

Seperti merasa cemburu, penampungan air peninggalan Belanda itu juga ikut menyumbangkan cerita. Kejadian itu belum lama terjadi saat penampungan air yang memiliki panjang kali lebar 50 meter itu di perdalam. Saat dalam pengerjaan ada seorang anak kecil dari desa sebelah yang berenang di tempat itu bersama teman-temannya tenggelam. Beruntung bocah itu cepat ditemukan dan mendapat pertolongan. Dari sekian banyaknya cerita, tempat itu menjadi tempat yang cukup menyeramkan bagi warga desa kami.

“OK. Gimana kalau malam nanti jam 12an kita inspeksi tempat itu?” kata Taufik tiba-tiba. Inspeksi dia bilang? Apa dia sudah gila? Masa memeriksa tempat seangker itu? Tanyaku dalam hati. Dan sepertinya kami semua berpikiran sama. Kami menolak tawaran tidak masuk akal itu. Taufik yang paling berani dari kami semua di bantu oleh Rudi yang penasaran ikut meyakinkan kami untuk bergabung.

Setelah berdebat. Lima menit kemudian terdengar kata “Deal” dari kami semua yang memutuskan. Sepertinya terlalu mudah bagi mereka untuk meyakinkan kami supaya ikut. Hasil keputusan kami adalah setelah warung mbok Darmi tutup pada jam 12 malam kami semua akan segera pergi ke sungai yang menyeramkan itu dan akan begadang di sana tanpa banyak bicara sampai ada sesuatu yang muncul atau bahkan sampai subuh kalau perlu.

Jam 12. Warung mbok Darmi tutup. Kami siap berangkat. Bahkan dari awal kami berangkat pun sudah tanpa banyak bicara. Sesuai perjanjian, kami akan berbicara hanya dengan berbisik agar kami tidak mengganggu orang yang sudah tidur atau agar setan yang belum tidur mau datang.

Kata orang dan begitu juga yang kami percayai. setan akan mendatangi orang yang takut dan akan menjauhi orang yang berani.

Kami berangkat hanya dengan modal ‘Kebersamaan’. Sebuah kata manis yang Taufik ucapkan untuk meyakinkan kami bahwa kami tidak akan mengalami apapun yang berbahaya asalkan kami selalu bersama.

Tak lama kami sampai di tempat itu. Gelap. Tanpa penerangan sama sekali. Bahkan bulan pun sepertinya takut untuk menampakkan diri. Cuma ada suara jangkrik yang mungkin bisa menghibur kami. Mata kami pun langsung menyesuaikan diri.

Tepat 2 meter di samping sungai itu ada sebuah pohon Mangga. Pohon milik keluarga pak Sutris yang berada tepat di belakang rumah pak Sutris itu cukup besar. Mungkin butuh 3 lengan untuk melingkarinya. Cukup aneh jika ada pohon mangga yang bisa mencapai ukuran sebesar itu. Kami semua merasa beruntung karena pohon itu bukan pohon beringin dan juga penyebab kematian pak Sutris bukan karena gantung diri di pohon itu. Karena dulu pak Sutris memang pernah sekali mencoba bunuh diri di pohon itu tapi gagal.

Sesuai perjanjian yang kami buat sebelumnya kami semua memutuskan untuk begadang di bawah pohon itu dengan melingkari dan membelakangi pohon. Dan hanya dalam beberapa menit kami bersandar…

“PRAAAAAKKK….”

Patahan kayu kering dari pohon mangga itu jatuh tepat di depan Rudi. Kami semua terloncat kaget mendengarnya. Tapi tak ada satu pun dari kami yang cukup pengecut untuk berteriak. Perjanjian untuk tidak berisik masih kami ingat.

“Tenang hanya kayu kering.” kata Rudi menenangkan kami. Dia tahu kami bertanya-tanya suara apa itu tadi. Kami sengaja menempatkan Rudi berlawan tempat dengan Taufik. Alasannya sederhana, karena mereka berdualah yang paling berani. Taufik yang paling berani kami tempatkan tepat menghadap sungai di utara. Jika ada sesuatu yang terjadi di sungai maka dia orang yang tepat untuk menghadapi kenyataan itu. Begitu juga dengan Rudi, sengaja kami tempatkan di selatan membelakangi sungai agar dia bisa jadi orang pertama yang melihat jika memang ada yang berjalan di sekitar kami. Sedangkan aku berada di timur bersama Yoga dan Andri di barat bersama Eko.

10 menit.

15 menit.

Tidak terjadi apa-apa. Atau mungkin setidaknya belum. Kami hanya mengobrol dengan nada berbisik untuk mengusir rasa kantuk.

Tiba-tiba senyap. Aku merasa ada yang aneh karena tak satu pun dari kami yang berbicara. Aku tahu mereka semua belum tidur. Tunggu…

Ini bukan hanya karena kami tidak mengobrol. Jika hanya itu sepertinya ini bukan pertama kalinya kami diam tidak mengobrol. Tapi ada sesuatu yang lain. Jantungku mulai berdetak liar.

“Hei… kalian belum tidur, kan? Tanyaku memastikan.

“Belum…”

“Belum…”

“Belum…” jawab mereka semua.

“Ada yang merasa aneh nggak”? tanyaku lagi belum puas.

“Apaan? Nggak ada. Aku cuma gerah.” Kata yoga di sampingku sambil mengipaskan tangan.

“Em…” gumamku.

TUNGGU…

Dia barusan bilang apa?

GERAH? Dia kegerahan?

Hei… kita sedang berada di luar. Di udara terbuka. Bahkan kita di dekat persawahan. Bagaimana kamu bisa meresa kegerahan di tempat seperti ini? Dengan mata membelalak tubuhku menegang menyadari kenyataan yang baru saja membenturku. Jantungku semakin liar.

“Perasaan tadi ada suara jangkrik, tapi sekarang kok nggak ada ya?” kata Eko tiba-tiba yang justru semakin membuatku tegang.

Benar. Suara jangkrik. Sejak kapan kami tidak mendengar suara jangkrik? Kata-kata Eko barusan hanya membuatku semakin gelisah. Sekarang aku merasa ada sesuatu yang mulai mengalir di pelipisku. Keringat  dingin.

Lebih baik aku  beri tahu mereka…

“Hei… kalian tahu tidak…” bisik Taufik menghentikan bibirku yang baru saja akan berbicara. “katanya dulu ada yang pernah lihat kuntilanak di atas pohon ini. Hiiiiii…..”

“Huuussssstth…” sergahku cepat. Taufik malah menahan tawa dengan tangan di mulutnya. Kami sadar kalau itu hanya cerita karangannya untuk menakut-nakuti kami. “…apa kalian tidak sadar kalau ada yang aneh di sini?” tanyaku lagi pada mereka. Kali ini aku ingin mereka lebih terfokus untuk benar-benar merasakan sekitarnya.

“Em… nggak ada apa-apa tu… sepi…” jawab Taufik pertama.

“Tunggu… mungkin kalian tidak merasa tapi dari tadi memang sangat sunyi. Tidak ada suara sama sekali.” lanjut Eko.

“Benar, aku mulai menyadari saat Eko mengatakan tidak ada suara jangkrik tadi….” Kataku. Saat itu juga kami saling bertukar pandang dengan teman sebelah kami memikirkan berbagai kemungkinan yang ada. Kami hanya berharap ini suatu kebetulan. “…juga… entah bagaimana dengan kalian tapi aku dan Yoga merasa kegerahan karena tidak ada angin sama sekali di tempat seperti ini.”

Tiba-tiba….

“Haah…” suara kaget tercekat Rudi yang pelan cukup bisa kami dengar.

“Hei ada apaRud?” tanya kami yang juga tanpa komando langsung mencoba mengarahkan pandangan pada Rudi.

“Mungkin perasaanku, tapi sepertinya aku tadi melihat ada bayangan hitam yang menuju ke sini dari arah depan. Tapi bayangan itu tiba-tiba berbalik mundur dan menghilang.”Image

“Di sebelah mana?” tanya Andri yang berada di barat memastikan.

“Antara rumah Eko dan Bu sutris!” sekali lagi kami semua mencoba melihat ke gang yang di maksud Rudi. Gelap. Walaupun mata kami sudah terbiasa.

“Woi…” Eko berteriak cukup keras. Kami semua terkaget mendengar teriakannya tak mengerti dengan apa yang baru saja dia lakukan. Kami bertanya. “kenapa teriak?”

“Sepertinya aku melihat ada kepala yang mengintip di antara gang. Spontan aku panggil.” jawab Eko dengan nafas yang tidak teratur.

Di panggil? Dia kira siapa yang baru saja di panggilnya? Pikiran kami penuh tanda tanda tanya dengan apa yang baru saja Eko lakukan dan katakan. Kami sibuk dengan pikiran kami sendiri-sendiri yang kemudian Yoga dan Eko menyadari bahwa tiba-tiba Rudi berdiri dengan gemetar sehingga mereka pun ikut berdiri. Jantung kami semakin berdebar dan spontan kami semua langsung berdiri ketika ada salah satu diantara kami ada yang berdiri. Seperti domino jatuh.

Taufik yang terakhir berdiri merasa bingung dan bertanya, “ada apa?”

“Ada bayangan di gang itu…” Rudi menjawab dengan terbata-bata sambil menunjuk ke arah gang tempat dia dan Eko melihat bayangan itu. Tangan Rudi menunjuk dengan gemetar. Kami semua juga langsung mencoba memastikan kebenaran ucapan Rudi.

Dan benar saja. Bayangan hitam itu tegak berdiri di gang rumah. Diam. Hanya diam. Bayangan itu seperti menatap kami. Aku merasa saat itu waktu berjalan sangat lambat dan tanpa kami sadari kami sudah saling desak menghadap bayangan itu. Entah bagaimana tapi Taufik pun sekarang sudah berada di sampingku.

Kami saling desak. Saling dorong. Sedang mulut kami hanya saling bergumam tidak jelas. Bahkan aku mendengar ada salah satu dari kami yang sedang membaca Al-Fatihah. Mungkin dia takut dan bermaksud untuk mengusir bayangan itu.

Tapi tunggu…

Ini bukan bacaan Al-Fatihah, tapi bacaan sebelum makan.

“Hei… Yog! Baca saja ayat kursi jangan bacaan sebelum makan!” perintahku pada Yoga sambil memukul pundaknya.

“Aku nggak hafal…” jawabnya gemetar. Lalu melanjutkan melafalkan semua bacaan doa yang dia hafal.

Tiba-tiba ada cahaya putih sangat terang yang menyinari mata kami. Bahkan saat tangan kami menutup mata paparan cahaya itu masih terasa sangat terang. Cahaya itu terasa panas di mata kami. Kami merasa cahaya itu lebih panas dari cahaya matahari.

“AAAAAAAAARRRRGGGGG…..”

Salah satu dari kami berteriak dan yang lain spontan ikut berteriak. “Aaaaarrrgggg….!!!”

Aku tidak tahu siapa yang pertama kali berteriak tapi…

Tapi…

Tapi saat kami saling bersahutan berteriak bayangan itu semakin mendekat dan cahaya itu semakin silau membakar mata kami…

Cahaya itu sekarang hanya berjarak 5 meter di depan kami. Kami berpelukan tersudut di bawah pohon. Saat itu aku merasa tak berdaya. Mata kami panas. Bahkan kami tak bisa melihat sumber cahaya itu karena silaunya. Dan aku tidak bisa menggerakkan kaki ku untuk berlari. Dan mulut kami berenam hanya bisa berteriak.

Kami akan mati…

Di sinilah akhir hidup kami…

Bayangan itu semakin mendekat…

Kami tidak bisa berlari lagi…

Kami tersudut…

Kami mati…

Tiba-tiba cahaya putih itu berubah warna menjadi pelangi gelap dan kemudian memudar di mata kami. HITAM. Gelap. Dengan berkas putih samar di tengah. Kami buta. Bahkan 5 senti di depan kami pun tak terlihat. Lalu semua hitam.

Ini sudah berakhir.

Kami sudah berakhir.

Ada yang bilang ketika kamu akan mati maka kenangan-kenangan tentang masa lalu akan terlihat kembali. Tapi percayalah… itu bohong. Kami bahkan tidak sempat untuk merasakan kembali kenangan-kenangan itu. Kami mati tertelan cahaya putih itu dan langsung tersedot dalam gelap tanpa meninggalkan setitik kenangan pun. Setelah ini apakah akan ada malaikat yang akan mendatangi kami?

Keadaan hitam gelap ini berlangsung lama. Seperti waktu terhenti.

Kami mati. Dan jika ada malaikat datang maka kami akan menyadarinya. Atau setidaknya dia mewujud di depan mata kami atau memanggil kami…

Dan kata pertama yang kami dengar adalah…

“Woi… ngapain kalian di sini? Mabok?”

Kata-kata itu menabrak kami begitu keras. Kami segera mengucek mata kami yang masih panas. Dan perlahan muncullah cahaya terang yang menyinari tanah… Cahaya itu terarah ke tanah.

Kami arahkan pandangan ke sumber cahaya itu, yang ternyata adalah Roni yang membawa senter besar yang biasa dia gunakan untuk menyusuri sungai di malam hari. Mengontrol air untuk sawahnya yang memang berada di sekitar sini.

Kami kesal dengan kenyataan ini. Begitu memalukan. Kami berteriak ketakutan seperti akhir dari hidup kami. Tapi ternyata bayangan hitam itu adalah Roni.

Seminggu ini yang mondar-mandir di belakang rumah Yoga dan Eko itu adalah Roni yang memang Minggu ini jadwalnya mendapat giliran air untuk mengairi sawahnya.

Sedangkan kenapa selama ini yang terlihat hanya bayangan gelap itu adalah karena senternya yang terlalu besar karena itu hanya dia nyalakan jika memang di perlukan. Sedangkan tadi apa yang di lihat Rudi adalah sosok Roni yang juga ketakutan ketika melihat kami berkumpul di bawah pohon. Pada akhirnya kami semua ikut mengontrol air bersama Roni. Jam satu lebih kami baru pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah aku tak langsung tidur. Mungkin karena terbiasa begadang jadi agak sulit untuk langsung tidur. Aku menyalakan televisi dan menonton berita malam pada channel stasiun TV lokal karisidenan Madiun. SAKTI TV. Aku mengambil bantal di kamar dan merebahkan badan di depan tv. Ketika acara berita malam masih belum di mulai, aku sudah tertidur lebih dulu.

“Selamat malam pemirsa…

…tiga berita utama malam ini adalah…

…berita selanjutnya tentang latihan terbang malam pesawat kecil baru tanpa awak milik Angkatan Udara di LanudMaspati yang berakhir kemarin mendapat sambutan dari Bapak Bupati Madiun…”

Dan menjelang Subuh, hujan itu datang. Alasan kenapa malam itu Yoga merasa gerah. Adalah karena hujan yang akan datang. Sama seperti malam sebelumnya.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on September 13, 2013 in Dunia Tulis

 

Tags: , , , , , , , ,

2 responses to “Bayangan Hitam

  1. sari widiarti

    September 17, 2013 at 1:15 pm

    hihihi.. untung cuma bayangannya rudi..
    tpi lucu kalau denger seikat pocong 😀

     
    • chandralight

      September 17, 2013 at 1:26 pm

      😛 kalo dari segi penulisan gmn? butuh bayak latihan ya? 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: