RSS

Review / Resensi Novel The Prince of Korea

23 Sep

Saya menulis resensi atau review ini bukan bermaksud untuk mempromosikan buku ini atau sebaliknya. Tapi murni hanya untuk berbagi ilmu, dan, ya, Memang cukup terlambat untuk meresensi buku ini karena sudah terbit selama 2 tahun. Tapi tidak menjadi masalah jika hanya saya terbitkan di blog.

Dan yang perlu dicatat adalah, kata orang “Resensi itu murni Personal Taste” dan menurutku tergantung juga dari seberapa banyak yang sudah dibaca peresensi. Jadi apa yang saya tulis di bawah adalah murni sudut pandang pribadi dengan berbagai kekurangannya. Semoga bermanfaat.

Image

Judul buku                            : The Prince of Korea

Penulis                                  : Deasylawati Prasetyaningtyas

Penerbit                                 : AFRA Publishing, Surakarta. (Indiva Media Kreasi)

Harga                                     : –

Tahun                                     : 2011. Cetakan kedua Januari 2012

Tebal                                      : 160 halaman; 20 cm

Pertama kali membaca judul buku ini tentu eyecatching bagi orang yang menyukai semua yang berbau korea‒jika tidak boleh dikatakan menggilai. Karena bagaimanapun juga saya masih cinta Indonesia‒dengan segala kesemrawutannya. Saya lahir di sini, menghirup udaranya, menginjak tanahnya dan meminum airnya (hayyo pernah baca di mana?). Dan, penulis buku ini pun orang Indonesia.

Penulis yang lahir 2 Desember ‘84 ini mulai aktif menulis sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena pada tahun 2005. Banyak prestasi yang sudah penulis peroleh dalam bidang tulis menulis seperti pada tahun 2005 naskah pertama yang dikirimkannya ke lomba novellet yang di adakan oleh Majalah Muslimah mendapat juara pertama dengan judul Alasan untuk Kembali. Beberapa karyanya juga pernah di muat di SOLOPOS dan majalah Gizone. Pada tahun 2006 menjadi juara pertama dalam Lomba Penulisan Novel Remaja Islam Tiga Serangkai dengan judul Ketika batu Mulai Bicara yang selanjutnya di terbitkan oleh Tiga Serangkai dengan judul Quraisy Terakhir pada tahun itu juga.

Lulusan Poltekkes Surakarta 2006 ini juga bekerja sama dengan NasSirun PurwOkartun untuk membuat cergam Obi: Harumnya bunga, Pedasnya Cabe yang di terbitkan oleh IHF (2007). Penulis juga menulis 8 buku nonfiksi untuk SD dan SMP tahun 2007 bersama penerbit Tropika dan karya selanjutnya di terbitkan oleh Indiva Media Kreasi. Antara lain, satu fiksi dan 2 nonfiksi pada tahun 2007, 3 antologi pada tahun 2008 dan dua novel pada tahun yang sama, salah satunya Thriller-islami The Half-Mask (Tiga Serangkai). Pada tahun 2009 terbit novel Livor Mortis tentang kritik sosial dunia medis dan 3 buku fiksi lainnya, sebuah nonfiksi berjudul Psiko Girl, sebuah antologi dan pocket series. Pada tahun 2010 terbit satu novel anak berjudul Salman Sang Detektif Cilik, novel remaja Ore Wa Ren! dan sebuah buku nonfiksi anak berjudul Nabi Muhammad Teladanku.

Novel yang berjudul The Prince of Korea atau 한국의왕자  ini berkisah tentang seorang Pangeran muda Korea berumur hampir 17 tahun Bernama Joon Sejong yang melarikan diri dari istana saat ulang tahun sang raja atau kakeknya. Dia merasa bosan dengan kehidupan istana setahun terakhir yang mengekangnya sebagai calon raja baru yang akan naik tahta menggantikan sang kakek.

Pangeran muda yang hampir tak pernah keluar dari tembok istana ini ingin merasakan hidup menjadi rakyat biasa yang bebas. Selama di pelarian dia bekerja di sebuah resto kecil dan menyamar sebagai Jae Hyun yang justru pelariannya ini mengakibatkan meninggalnya sang kakek dan terungkapnya sebuah rahasia keluarga kerajaan yang disembunyikan selama 17 tahun.

Banyak pelajaran di luar istana yang di peroleh Sejong/Jae Hyun selama pelariannya. Perasaan senang dan hangat dari Yeo Jin gadis ceria semurannya yang dia temui secara tidak sengaja dan orang-orang aneh yang menjadi temannya. Juga rasa sedih ketika pengkhianatan dalam istana yang dilakukan oleh paman Tirinya sehingga  mengakibatkan meninggalnya sang kakek.

Tetapi dia masih bisa berdiri tegar dengan setiap orang yang berada di sisinya. Orang-orang kepercayaannya dan orang yang dia sayangi serta menyayanginya. Hingga dia pun diangkat menjadi raja baru di umurnya yang masih perlu banyak belajar.

Pesan yang disampaikan dari novel ini cukup banyak, jika dilihat dari sudut pandang Sejong atau Jae Hyun, maka kita harus bersyukur dengan kehidupan kita sebelum iri melihat orang lain. Kehidupan luar istana yang dikatakannya menyenangkan ternyata penuh kerja keras. Beralih pada sosok Lee Yang Seong dan Lee Min Jeung maka integritaslah yang tergambar. Pengabdian yang hampir seumur hidup harus mereka jalani. Juga kepatuhan dalam beragama. Dan salah satu tokoh terpenting adalah Lee Yeo Jin yang selalu ceria dengan segala kenyataan yang hampir tak pernah membuatnya merasa kecewa‒atau memang dia tak memiliki rasa kecewa? Bagaimanapun bagiku dia terlalu sempurna.

Melihat ke belakang, novel ini memang sangat erat dengan dunia penulis yang memiliki anak kembar dan latar belakang pendidikan di poltekkes serta latar belakang agama yang bisa dilihat dari beberapa hasil tulisannya. Semua bidang keahliannya penulis sajikan dalam novel ini. Seperti yang juga di akui penulis, inspirasi novel ini di peroleh saat melihat anak kembar laki-lakinya sedang melihat saudari kembarnya tengah tidur terlelap. Terlihat mengharukan, tutur penulis dalam kolom Ucapan Terima Kasih.

Dilihat dari pengalaman menulis dan jam terbang penulis di atas tidak heran jika novel ini selesai di tulis hanya dalam waktu kurang lebih 1 bulan termasuk risetnya. Luar biasa cepatnya bukan? Mungkin juga karena penulisannya yang ringan. Bahkan di tengah kesibukannya sebagai ibu dari 3 anak dengan sepasang anak kembar dan segala aktivitasnya saat beliau menulis novel ini.

Tapi mungkin karena itulah menurut saya novel ini memiliki sedikit kekurangan. Yang perlu saya garis bawahi pertama kali adalah setting yang ada dalam novel ini. Berikut penjelasannya kelebihan dan kekurangan novel ini yang berhasil saya tangkap;

Dengan setting yang berada di Korea tentu ada yang kurang jika tidak memasukkan unsur Korea ke dalamnya. Sepeti bahasa, makanan, dan tempat-tempat yang harus ikut di masukkan. Yang paling menonjol adalah penggunaan bahasa.

Kelebihannya adalah penulis cukup sering memasukkan banyak kata umum bahasa Korea dalam percakapan tokoh. Cukup bagus bagi pemula yang ingin memulai dan mengetahui dasar belajar bahasa Korea. Terutama penggunaan dan kata yang digunakan.

Sedangkan kelemahannya adalah beberapa kata tersebut kurang cocok untuk di gunakan atau lebih tepatnya hanya dalam masalah penambahan partikel. Bahasa Korea menggunakan tingkatan-tingkatan seperti bahasa Jawa, yaitu tergantung dengan siapa kita berbicara atau sederhananya adalah kapan dan kepada siapa menggunakan kata formal atau informal.

Yang paling terlihat adalah penambahan 요 (­–yo). Penambahan –yo memang berarti lebih sopan. Tapi dalam kehidupan sehari-hari native speaker di sana tidak menggunakan penambahan –yo ini untuk berbicara dengan seumuran yang sudah akrab. Penulis cukup sering menggunakan kata dengan tambahan partikel –yo dalam percakapan antar tokoh. Atau contoh lain adalah penggunaan sapaan Annyeong saja sudah cukup jika memang sudah akrab. Pada intinya penulis sedikit kurang riset dalam hal ini. Tapi juga bukan suatu kesalahan fatal, apalagi semua proses menulis dan riset hanya satu bulan. Saya sendiri bukan ahli bahasa Korea. Tapi bermodal beberapa buku dan belajar di sana sini cukup untuk mengetahui hal-hal seperti di atas.

Dari segi isi cerita, sejujurnya pada bab pertama saja saya sudah bisa mengetahui inti cerita dari novel ini. Pada bagian prolog, menceritakan tentang operasi donor organ yang akan dilakukan Sejong. Kemudian dilanjutkan bab pertama yang langsung memperkenalkan Yeo Jin dengan sosok gadis yang memegang pinggangnya dengan kesakitan. Langsung terpikir jika dialah yang akan menerima ginjal dari Sejong. Dan mereka adalah kembar. Tahu dari mana kalau mereka kembar? Maaf jika sebelum membaca novel ini saya terlebih dulu membaca biodata dan ucapan terima kasih penulis yang ada di bagian belakang. Jadi cukup mudah untuk mengaitkannya. Itu yang pertama.

Yang kedua adalah ada begitu banyak kebetulan dalam novel ini‒atau tampak dipaksakan. Seperti pertemuan-pertemuan antar tokoh dengan lainnya. Dan, walaupun penulis sudah beralasan dengan mengatakan “tidak ada yang kebetulan di dunia ini” atau “hidup kalian sudah terikat takdir”­. Saya cukup penasaran dan tetap membacanya sampai akhir hanya dalam waktu 2 hari untuk mengetahui cerita utuhnya dari penulis sendiri.

Juga kemisteriusan beberapa tokoh seperti Min Jeung‒juga penggambarannya yang kurang jelas. Atau Park Il Min yang cukup aneh dengan kemisteriusannya. Dan siapa pun yang membaca novel ini pasti tahu jika mereka memiliki peran, rahasia, atau bahkan sudah bisa menebak siapa mereka sebenarnya. Saya sendiri langsung tahu siapa Park Il Min itu sebenarnya.

Selain kemisteriusan beberapa tokoh yang sedikit berlebihan juga ada beberapa tokoh tidak penting yang diberi nama. Seharusnya setiap tokoh yang diberi nama itu memiliki peran yang cukup penting dalam cerita. Tetapi di sini sepertinya hanya sebagai bumbu pemanis.

Ada satu tokoh pendukung dalam novel ini dan juga misterinya yang menurut saya belum 100% terkuak. Yaitu Kim Eun Hye dengan misterinya yang takut pada Min Jeung. Memang Yeo jin sudah menjelaskan jika Eun Hye tidak berani datang lagi ke resto setelah mengobrol berdua dengan Min Jeung. Tapi sampai kata terakhir dari novel ini saya tidak mendapatkan jawaban, sebenarnya kalimat apa yang dikatakan Min Jeung pada Eun Hye sehingga bisa membuat Eun Hye takut. Padahal di sekolah tidak ada yang berani melawannya‒karena dia anak kepala sekolah. Aku pikir akan ada penjelasannya di Epilog atau mungkin bab terakhir. Tapi ternyata, NO. Novel ini di mulai dengan Prolog dan tidak di akhiri dengan Epilog.  Sampai sekarang hanya bisa mengarang atau menebak-nebak.

Menariknya, ada yang mengatakan jika novel ini adalah novel Islami. 😀 Menurutku ini seperti sebuah jebakan cukup cerdas yang diciptakan oleh penulis. Mungkin seperti dipaksakan tapi aku rasa penulis sudah cukup berusaha memolesnya agar tidak tampak terlalu di paksakan. Lalu kenapa bisa di sebut novel islami? Settingnya kan di Korea dan tentang keluarga kerajaan?! Jika ada yang bertanya seperti itu aku akan menjawab, “Penasaran? Ya baca aja sendiri!” 😀 haha

Sebenarnya masih ada beberapa hal kecil lain, tapi sepertinya tidak perlu untuk saya sampaikan. Overall, novel ini cukup menarik dan memiliki pembeda dari novel lain karya novelis Indonesia yang mencoba menggambarkan atau menceritakan kisahnya di negara lain, khususnya Korea. Jika saya bandingkan dengan Summer In Seoul karya Ilana Tan, walaupun sama-sama menggunakan sudut pandang orang ketiga tapi saya akan memberi nilai tambah pada Summer In Seoul. Karena pada novel itu penulis berpindah-pindah sudut pandang sehingga bisa membuat pembaca lebih bisa memahami perasaan antar tokoh. Sedangkan di novel ini penulis hanya menempatkan sudut pandang pada Sejong.

Sekali lagi buku ini cukup menarik untuk dibaca, saya sendiri langsung melahapnya habis dalam 2 hari‒mungkin sehari jika tanpa kegiatan. Bagus juga untuk siapa pun yang ingin tahu tentang Korea, penggemar drama Korea, yang sedang belajar bahasa Korea, atau mungkin yang akan liburan ke Korea, karena ada beberapa tempat wisata juga yang penulis ceritakan dengan keindahannya dalam novel ini.

NB: Saya masih pembaca pemula dan masih banyak belajar menulis. Mohon masukan jika ada salah kata. Terima kasih.

Saya tunggu komentarnya di bawah.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on September 23, 2013 in Review

 

Tags: , , , , , , ,

One response to “Review / Resensi Novel The Prince of Korea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: