RSS

Ibu… (Sebuah cerpen)

04 Oct

“Sampai kapan? Hatiku sakit menahan ini terlalu lama. Menjalani hidup seperti ini sama saja dengan hidup dalam neraka. Tuhan, yakinkan aku jika aku lebih kuat dari ini semua.” Hatinya terus merintih saat dia berjalan menuju pintu keluar. Keluar dari rumahnya sendiri. Rumah tempat dia dibesarkan oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Kini, dia harus pergi meninggalkan satu-satunya rumah peninggalan orang tuanya.

Rasa sakit yang selama ini di deritanya sudah tak bisa lagi dia tahan. Hatinya sudah lelah menahan semuanya begitu lama. Bahasa yang dia gunakan hanya bahasa alami sebagai seorang manusia, tangis. Setetes alur air dari matanya mulai mengalir membasahi pipi. Pipi yang dulu sering di cubit Ibunya dengan gemas penuh kasih sayang.

Kenangan indah akan orang tuanya tak akan pernah dia lupa. Kenangan itu sudah terukir dalam baja hatinya. Tersimpan abadi. “Ibu… Aku minta maaf”. Suaranya serak tercekat dalam tenggorokan dan tertahan oleh air mata penyesalan. Penyesalan karena sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakit karena tinggal di rumahnya sendiri. Rumah peninggalan yang harusnya dia jaga tapi justru harus dia tinggalkan.

Dia sekarang sudah sampai di taman depan rumahnya. Pandangannya terarah ke taman yang penuh dengan bunga berwarna-warni yang di tanam sendiri oleh Ibunya. “Ibu… maaf. Maaf tidak bisa memenuhi permintaan terakhirmu.” Bayangan Ibunya yang menitipkan pesan terakhir di kamar rumah sakit itu terlintas di depannya.

Rasa sakit tak terbayangkan muncul saat dia menyeberangi taman indah dengan koper yang di tariknya. Langkahnya gontai. Melangkah melewati taman ini seperti meninggalkan seisi hidupmu dan melangkah menuju kekosongan. Ironis. Dia berjalan di iringi bunga-bunga indah dari taman di sekelilingnya. Tapi juga membawa rasa sakit yang bahkan rasa sakit itu dapat dia rasakan di lidahnya ketika menelan ludah. Terasa begitu pahit.

Sesaat dia berhenti memandang sekilas taman di sekitarnya. Bayangan waktu kecil saat dia bermain dengan ayahnya di taman itu muncul. Bayangan saat dia menyiram tanaman bersama ibunya yang berakhir dengan saling semprot air itu juga muncul. Bayangan indah lain juga muncul silih berganti. Seperti mencoba untuk mengeringkan air mata dan memaksa senyum di bibirnya.

Tapi rasa sakit karena khianat oleh saudaranya sendiri yang dia rasakan terlalu besar. Lebih kuat dari kenangan indah itu. Itu yang dia pikirkan. Dia terus terisak. Tapi dia belum tahu jika kenangan indah yang dia rasakan selama ini lebih kuat dan lebih indah dari apapun. Dia belum tahu dan sadar jika yang membuatnya kuat selama ini adalah kenangan indah yang dijaganya. Dia tidak tahu jika tanpa didikan ibunya selama ini mungkin dia tak akan bisa menerima kenyataan ini.

Dia berhasil melewati pagar rumahnya dan memegang pegangan pagar dari besi itu dengan goyah. Kakinya terasa lemas. Dia hampir terjatuh di depan pagar itu jika tak tertahan oleh pagar yang dia pegang. Dia merasa lelah. Lelah menghadapi ini semua dan sudah selama ini. Untuk bangkit dari jatuh tubuhnya saja dia merasa sudah tidak memiliki tenaga lagi. Dia tidak bisa membayangkan jika yang jatuh adalah kenangan indah yang terus menjaga hatinya agar selalu kuat. Dia tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika dia sudah kehilangan pegangan dalam hatinya.

Kini dia mulai merasakan perasaan lain. Perasaan itu mulai dia rasakan dari tangannya. Dingin. Dia baru tahu jika ternyata besi pegangan pagar rumahnya ini terasa begitu dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari yang biasa dia ingat. Rasa dingin itu merayap merasuk dalam hatinya. “Ibu….” dia terisak lebih keras. “Aku sendirian…” Teriaknya dalam hati.

Kini air matanya jatuh semakin deras. Dia melemas dan menangis lebih keras lagi dan akhirnya jatuh terduduk di depan pagar. Pegangannya sudah runtuh bersama air mata yang dari tadi sudah dia tahan.

Dia baru menyadari jika dingin yang dia rasakan adalah rasa kesendirian. Dia kesepian. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Pegangannya selama ini sudah runtuh terbawa air mata yang sudah tak terbendung. Sendiri itu begitu menakutkan. Begitu dingin. Dia merasa takut dan tak kuat menahan semua ini sendirian.

“Ibu… aku takut.” Katanya lagi. Kata yang selalu dia ucapkan dulu ketika lampu di matikan sebelum tidur dengan manjanya. Tapi kini kata itu dia ucapkan dengan alasan yang lebih kuat. Dia sekarang benar-benar sendirian. Dia tidak tahu lagi apa dia bisa bertahan hidup sendiri di luar sana.

Nafasnya kini terasa begitu berat. Dia mulai merasa semua ikut menjadi lebih berat… rasa sakit di dalam hatinya mulai menyebar ke seluruh tubuh. Sesaat matanya berkedip dan terasa begitu lama. Dia melihat ada bayangan orang tuanya sedang tersenyum.

“Ibu… jangan tinggalkan aku sendirian.” Katanya memanggil Ibunya dalam satu kedip yang terasa begitu lama. Tangisnya semakin berat. Dia membuka matanya lagi dan dia langsung merasakan kehilangan yang begitu berat. Dia tidak mau merasakan rasa sakit itu lagi. Dia memilih memejamkan matanya selamanya jika memang hanya dengan begitu dia bisa melihat orang tuanya lagi dan tidak merasa sendirian.

Sesaat kemudian dia terjatuh karena sudah tidak bisa lagi menahan berat beban yang dia tanggung sendiri. Sudah tidak ada yang bisa dia ajak berbagi lagi. Dia jatuh dengan mata yang menutup perlahan. Dia sudah tak berpikir lagi apakah dia akan membuka matanya lagi atau tidak. “Aku tidak sendirian dalam gelapku, Ibu… Maaf.” Dia tersenyum sebelum matanya benar-benar tertutup.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on October 4, 2013 in Dunia Tulis

 

Tags: , , , , , , , ,

One response to “Ibu… (Sebuah cerpen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: