RSS

Mereka meninggalkanku pergi lebih dulu (Merantau)

10 Nov

-10 November-

Baru hari Kamis kemarin aku mengantar sahabatku untuk berangkat merantau, mengejar mimpinya. Hari ini, aku harus mengucapkan ‘Sampai jumpa’ lagi pada sahabatku yang lain. Beberapa hari lagi dia juga akan pergi merantau. Satu persatu mereka meninggalkan kampung halaman, meninggalkan aku juga. Walaupun mereka merantau ke tempat yang berbeda, tapi mereka punya satu tujuan yang sama, kesuksesan.

Kemarin aku sama sekali tak merasakan kesedihan saat mengantar sahabatku yang tinggi besar itu berangkat. Aku tahu jalan inilah yang harus dia tempuh. Aku malah iri dengannya, karena kesuksesan itu adanya di perantauan. Bahkan Nabi Muhammad saja Hijrah untuk kesuksesan menyebarkan Islam, bukan? Tapi menyadari bahwa kita tak akan bertemu lagi selama paling tidak lima tahun ke depan─paling lama, aku merasa dadaku langsung sesak. Mengingat bagaimana selama ini kita menghabiskan waktu bersama, membicarakan ini dan itu, saling berbagi cerita, dan kenangan-kenangan lain. Aku langsung merindukanmu kawan.

Belum rinduku pada sahabatku itu terobati, kemarin aku menerima kabar bahwa sahabatku yang lain yang akan segera berangkat merantau dalam waktu dekat. Kabar mendadak itu sekali lagi membuat nafasku sesak. Jadwal yang awalnya masih sebulan lagi harus di percepat dalam beberapa hari lagi. Jika tahu akan seperti ini, jika tahu pertemuan itu hanya sementara dan sesingkat ini, pasti aku akan sering mengunjunginya. Aku sadar, menghabiskan waktu sesiang tadi bersamanya tak pernah cukup untuk merekam senyumnya dalam ingatanku. Aku butuh waktu lebih lama, bukan hanya untuk merekam senyumnya, tapi juga tawa candanya. Ada banyak perubahan yang aku temukan, tapi aku tak punya waktu untuk menyimpan setiap perubahannya itu. Untuk dia, ada sudah merindumu bahkan sebelum kamu berangkat.

Kami tak pernah saling mengucapkan kata perpisahan. Sekalipun hanya ‘Perpisahan sementara’, bagaimanapun juga kata itu terlalu dramatis. Kami tahu, cepat atau lambat pasti akan bertemu. Tapi secepat apapun itu setidaknya tiga tahun lagi.

Bisa kamu bayangkan apa saja yang mungkin terjadi dalam rentang tiga tahun itu? Ada jutaan momen yang pasti akan terjadi. Dan masing-masing dari kita tak bisa hadir untuk ikut menyaksikannya. Bisa saja dia menikah setelah pulang merantau seperti katanya tadi.

“Kamu nggak akan menikah tanpa aku, karena akulah yang berijab di sampingmu” Kataku. Walaupun kami tertawa, tapi aku serius saat mengatakan bahwa aku ingin menyaksikannya menikah. Banyak kenangan indah kalian yang ingin aku saksikan.

Jelas aku takut, karena aku juga punya rencanaku sendiri. Kemungkinannya sangat besar bahwa saat itu aku sedang dalam perantauan, mengejar cita-citaku sendiri. Pulang sewaktu-waktu juga bukan hal yang mudah dilakukan. Jika memang itu yang harus terjadi, lalu apa yang harus aku lakukan? Menyaksikanmu dari layar kaca tentu akan sangat berbeda.

Memang dalam posisi sebagai orang yang ditinggal, aku merasakan kesendirian. Mungkin itu juga kenapa aku sulit bernafas saat mengingat kalian. Tapi aku tahu, aku juga harus segera mengejar kalian untuk meraih mimpiku. Seperti yang pernah aku katakan, berbahagialah kalian karena ada aku yang merindukan kalian, ada aku yang meninggalkan senyum untuk kalian, ada aku yang akan mengejar kalian, dan ada aku yang menunggu memeluk kalian saat kita bertemu nanti. Asal kalian tahu, membayangkannya saja, aku sudah meneteskan air mata kebahagiaan.

Sahabatku, Aku sangat merindukan kalian… :’)

Mari sama-sama berjuang dan kita raih mimpi-mimpi kita… :’) Jangan lupa saling mendoakan ya? 🙂

Eh, tau nggak? Bulan malam ini terlihat temaram dengan cahayanya yang tinggal setengah. Aku harap sih itu bukan karena ingin mendramatisir perasaanku ya 😀 haha

ohya, nih ada quote sebagai pengingat;

“Man Shabara Zhafira” – Barang siapa yang bersabar, beruntunglah ia
“Man Jadda Wajadda”  – Barang siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia
“Man yazra’ yahsud”     – Siapa menanam, Dia memetik

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”
                                                                        Syair Imam Syafi’i
“Bersabarlah dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus-meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan.”
                                                                       Syair Sayyid Ahmad Hasyimi
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2013 in Dunia Tulis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: