RSS

Kultwit Prof. @Rhenald_Kasali Tentang Basic Science Dan Applied Science

12 Mar

Kulitwit dari Prof. Rhenald Kasali @Rhenald_Kasali yang begitu menginspirasi. Seputar Ilmu yang kita geluti: beda basic science dengan applied science.

(1) Pendidikan yang kita geluti pada dasarnya adalah basic science atau ilmu dasar dgn fondasi matematika dan metodologi yg kuat…
(2) Basic science itu telanjang, tanpa kemasan dan pencitraan, dengan bahasa tanpa bumbu rasa. Kita uji kebenaran, validity dan reliability
(3) Basic science itu adalah math, biology, chemical scince, economics, psychology, sociology. Sedangkan computer science, manajemen…
(4) Sedangkan Bisnis, Manajemen, Pariwisata, Farmasi, Komunikasi, Akunting, HI, Arsitektur, Seni Rupa, Desain dll, menurut saya adalah applied science.
(5) Menjadi masalah applied science di Indonesia berkembang dalam “rumah basic science”. Apa akibatnya?
(6) Akibatnya, ya lulusan tidak siap pakai, tidak applied, ribet, kaku, menjadi paper centris: paper entrepreneur, bukan riil entrepreneur
(7) Masalahnya untuk menjelajahi basic science diperlukan sosok-sosok genius yg berbeda dgn sosok pada applied science
(8) Basic science itu menguji kebenaran, memecahkan rahasia alam. Output puncaknya adalah paper, publikasi ilmiah
(9) Applied science itu mencari solusi dengan menggabungkan hasil-hasil temuan. Output puncaknya adalah patent, aplikasi2
(10) Applied science itu kaya warna, bahasa, boleh memasukkan emosi dan art. Sangat dinamis dan terbuka…(11) Ada masalah saat graduates dari applied school berkarier sebagai scientist. Mau jadi GB harus bergelar doktor, bagaimana riset S3 Applied Science?
(12) Bangunan studi S3 itu sarat dengan methodologi & basic research, bukan applied research. Pernah lihat disertasi doktor akutansi or arsitektur?
(13) Ada yang buat disertasi arsitektur tentang sejarah (bangunan kota tua) lengkap dengan antropologi dan sosiologinya…bagaimana disertasi S3 seni rupa?
(14) Nah…sekarang banyak hakim, jaksa dan birokrat ambil program doktor…seru nih….apakah bisa gelar itu dipakai dlm birokrasi?
(15) Saya khawatir, bukan applied, tapi birokrasi bisa jadi makin ribet, makin kaku….
(16) Untuk bidang manajemen, untuk dipakai dalam bisnis adalah MBA atau MM. Kalau ambil S3, maka itu karier akademik…
(17) Masalahnya di sini ilmu itu sudah campur aduk dengan gelar, jabatan, strata, seperti kehormatan, keningratan
(18) Akibatnya kita temui juga pejabat negara diberi gelar Profesor..teman2 dari lembaga riset pun ingin pny gelar profesor
(19) Profesor itu jenjang tertinggi di dunia akademik, bukan di dunia non akademik
(20) Sebaliknya, banyak yg “gerah” dengan status kelulusan diploma (D3 atau D4), sehingga semua ambil lagi S1 dan S2. Why so?
(21) Benar! Karena pnghargaan yg diterima sebagai lulusan diploma itu lebih rendah daripada S1 walaupun keahlian applied itu menonjol di D3/D4
(22) Indonesia tengah terperangkap dengan pandangan “Bahwa untuk jadi negara maju harus mencetak banyak sarjana”. Kita malu dgn rendahnya jumlah sarjana
(23) Namun bisa apa sarjana-sarjana basic science di dunia kerja atau karier profesional? Apa salah punya banyak luluan SLTA yang bisa membatik?
(24) Apakah ada sarjana yang mau menjadi tukang, petani, pembatik, security, atau pasukan angkut sampah?
(25) Apakah betul Amerika punya banyak sarjana sehingga jadi negeri makmur & maju? Setahu saya tidak….namun ini butuh keberanian untuk mengakuinya
(26) Sepenglihatan saya, semakin sedikit minat kaum muda di banyak negara maju yang mengambil program S1, S2 dan S3…ini berkebalikan dengan di sini
(27) Sekarang masalahnya ilmu kita itu mau diapakan?
(28) Mau jadi pajangan dalam pilleg atau pilkada? Pajangan di kartu nama? Buat cari kerja? Atau mau diaplikasikan, digunakan agar bermanfaat?
0(29) Sekarang bagaimana dong solusinya? Solusi yang membuat negeri ini jadi lebih makmur dengan strategi pendidikan yg tepat?
(30) Pertama, perkuat pogram Politeknik, akademi, atau D1sd D3 dengan applied science yg matang…
(31) Kedua, lulusan Diploma ini bisa mengambil kursus-kursus yg menambah keahliannya dan di labor market keahlian itu dihargai dengan policy yang kuat
(32) Latih kembali dosen-dosen dalam applied science, kubur mimpi mereka menjadi basic scientist. Hapus skripsi/tesis, kurangi jumlah mata kuliah yang tidak penting
(33) Ketiga tata kembali penempatan applied scince dari rumahnya di fakultas-falkutas yg didominsai oleh basic science…ubah budayanya
(34) Seperti berhasil dan keluar dari middle income trap, Indonesia hrs punya komitmen membangun applied science yang kuat…
(35) untuk membangun applied science, perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga resmi aksesnya dibuka untuk dunia pndidikan agar punya akses terhadap organic lab
(36) ke empat, tanamkan life skills dalam penddidikan usia dini dan dasar, agar manusia Indonesia tahu cara menggunakan ilmu
(37) Kurangi jumlah SKS dalam prodi S1. Saat ini Indonesia menetapkan 144-152 SKS untuk S1. Di negeri lain hanya 124 SKS dan tanpa skripsi
(38) Jenjang karier dosen dengan ketentuan gelar harus sebidang dan linear hanya cocok untuk Basic Science. Applied science perlu perkawinan bidang

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2014 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: